Blusukan ke Solo,dari Kraton hingga bekas pabrik gula

Posted at 04 September 2019

Kategori: Wisata

Diantara keturunan dinasti Mataram, Istana Mangkunegaran mungkin yang paling penuh dengan perpaduan ornamen Eropa dan negara-negara jauh lainnya.Hal ini dapat dipahami mengingat pada perkembangannya pura Mangkunegaran lebih menerima modernitas dibandingkan dengan para 'saudara' tuanya. Tercatat, Legiun Mangkunegaran sendiri merupakan pionir organsiasi militer modern kaum pribumi di nusantara. Di Pura Mangkunegaran, pengunjung akan diantar oleh pemandu untuk berkeliling beberapa ruang. Di awali di pendopo, ruang pamer koleksi hingga beberapa ruang keluarga di bagian belakang. Pada beberapa ruang seperti di ruang koleksi yang ada benda-benda pusaka, pengunjung tidak diperkenankan mengambil foto.

Mengunjungi Pura Mangkunegaran, sejenak menengok sejarah panjang peradaban di bumi Jawa. Melintasi selasar pura dan memandang halaman nan luas memunculkan imajinasi tentang lalu-lalang orang-orang di masa itu. Membayangkan Raden Mas Said menjaga wibawanya di depan tentara Belanda atau menyaksikan keberhasilan Mangkunegaran IV melakukan ekspansi pabrik-pabrik gula dan sumber perekonomian lainnya. Atau mereka ulang adegan tatkala gamelan-gamelan memainkan gending dan disiarkan langsung hingga ke negeri Belanda untuk mengiringi Gusti Nurul yang tengah menari untuk Ratu Yuliana.

Solo sering dikatakan sebagai kota kembarnya Jogja karena kedua kota ini memiliki keterkaitan satu dengan yang lain dalam perkembangan kerajaan Mataram Islam. Sama seperti di kota Jogja, Kota solo memiliki dua keraton yaitu Mangkunegaran dan Kasunanan Surakarta. Dari kota Jogja, hanya dibutuhkan waktu sekitar 1,5 sampai 2 jam dengan berkendara. Banyak hal yang bisa dinikmati di Kota Solo, mulai dari wisata belanja batik, kuliner khas, berburu barang-barang antik hingga mengunjungi museum di kraton.

Pada masa kejayaanya, Pura Mangkunegaran memiliki banyak pabrik gula di kawasan eks karesidenan Surakarta. Sedikit yang kini masih bertahan. Beberapa bangunan pabrik gula kini beralih menjadi tempat publik seperti eks Pabrik Gula Colomadu yang diberi branding De Tjolomadoe. Bangunan ini selain menjadi museum juga digunakan sebagai tempat pertunjukan. Tercatat beberapa artis kenamaan dalam dan luar negeri sudah memanfaatkan panggung pertunjukan di situ. Tempat ini tidak jauh dari Kota Solo, sekitar 20 menit dengan berkendara ke arah Bandara Adi Sumarmo.

"Modernisasi di Jantung Budaya Jawa" demikian judul buku yg ditulis Prof Wasino utk menggambarkan puncak kejayaan Mangkunegaran dlm hal pembangunan. Berbagai infrastruktur, kegiatan di sektor perkebunan dan juga industri berkembang sejak Mangkunegaran IV lalu dilanjutkan kembali pada masa Mangkunegaran VI.Pada masa MN VI, dilakukan perbaikan serta instalasi mesin-mesin baru di PG Colomadu. Dari sisi produksi tebu, Mangkunegatan membeli atau menyewa lahan2 baru utk perkebunan tebu. Salah satu kunci sukses Mangkunegaran VI adlh pengelolaan keuangan yg lebih baik. MN VI memulai pemisahan keuangan pura mangkunegaran dgn unit-unit bisnis. 
Kemajuan Mangkunegaran mendapatkan tantangan dari Hindia Belanda. Otonomi pengelolaan keuangan perlahan diintervensi. Tantangan lain tentu adlh depresi ekonomi tahun 30an yg berdampak pada penurunan laba berbagai unit usaha termasuk PG Colomadu.

Kini mesin2 di PG Colomadu tdk lagi bergerak. Semuanya diberi lapisan cat utk menyembunyikan karat. Bau pelumas tak tercium. Rel-rel lori pengangkut tebu masih menyembul di antara tegel semen yg dipasang rapi. PG Colomadu menjadi tempat yg menarik utk berfoto.

Melihat mesin-mesin yg besar itu saya teringat "Modern Times" nya Charlie Chaplin. Pada film itu, Charlie Chaplin adlh buruh yg mencoba bertahan pada pabrik yg mulai menggunakan mesin2 modern. Pada akhirnya ia dihajar dan digulung oleh mesin2 itu.Film itu mungkin menggambarkan bahwa mesin2 besar adlh representasi dari dunia modern. Tentu Pak Charlie tdk akan mengira ada suatu masa dimana mesin2 besar itu kalah pamor dgn revolusi yg dibawa oleh teknologi digital.Mungkin juga Mangkunegaran VI tdk membayangkan pemerintah Hindia Belanda akan runtuh. Pergantian kekuasaan terjadi dan terjadi lagi, PG Colomadu lalu berubah menjadi De Tjolomadoe dgn tulisan BUMN menjadi tanda di mana-mana.

Sembari merenungkan kembali pengalaman blusukan kali ini, jangan lupa untuk menyantap kuliner khas kota ini. Ada banyak pilihan mulai dari makanan tradisional hingga masakan khas kota Solo yang terkesan terpengaruh dengan budaya barat. Interaksi dengan orang-orang eropa pada masa hindia belanda, Solo memiliki beberapa kuliner yang unik seperti Selad, Bestik hingga Setup Makaroni. Salah satu kesan saya terhadap Kota Solo adalah di kota ini banyak dijumpai restoran yang berkonsep restoran untuk keluarga. Salah satu favorit saya adalah restoran Kusuma Sari di Jalan Slamet Riyadi.