Air di Bukit Menoreh

Posted at 04 September 2019

Kategori: Wisata

Kabut mulai merambah Gunung Kelir di Menoreh yang membentang di perbatasan Kulon Progo dan Purworejo. Nama Gunung Kelir sebenarnya muncul di berbagai tempat. Disebut demikian karena tebingnya yang curam seperti layakanya kelir, layar untuk memainkan wayang kulit. Kali ini putihnya kabut membuat tebing kapur yang curam itu itu semakin benar-benar seperti kelir.Anak-anak bermain di jalanan yg menanjak. Orang-orang proyek jalan provinsi membereskan perkakas. Seorang berperawakan besar menenteng palu godamnya. Batu-batu kali siap dipecahkan lagi besok.Jalan provinsi yg lebar itu membelah suasana desa khas perbukitan menoreh. Bebebrapa jalan melingkar-lingkar di punuk bukit sedemikian hingga para pengendara motor sungguh menikmati lembah, tebing dan panorma bentang alam di kejauhan.

Kali ini kami mengunjungi perbukitan ini untuk mencari kesegaran air yang mengalir pada lereng-lereng perbukitan. Di wilayah Girimulyo terdapat beberapa daya tarik wisata yang terbentuk oleh aliran sungai dan air terjun. Salah satunya adalah Taman Sungai Mudal yang dekat dengan jalan raya Giromulyo-Waduk Sermo. Dari lokasi parkir kendaraan pun sudah terlihat kawasan sungai tersebut.

Saya pernah menyaksikan di program TV Jepang tentang kuis tebak-tebakan foto air terjun di negeri sakura itu. Ternyata orang Jepang peduli dengan keunikan tiap objek air terjun.Sayajadiberpikir, apakah air terjun di wilayah menorah inimemilikikeunikanmasing-masing? Di Taman Sungai Mudal anda akan menyaksikan aliran sungai yg curam. Lalu, dari tingkat paling bawah kitaakan berjalan di tangga yg terletak persis di samping aliran sungai tersebut. Sesampainya di puncak, ada bendung kecil tempat anda bisa berenang. Lalu di sampingnya terhampar taman dengan tanaman dan bunga yg ditata rapi. Suasana sejuk dan rindang membuat rasanya ingin berlama-lama bersantai di tempat duduk beratapkan bambu dan ijuk di taman itu.

Berjalan menyusuri sumber air, anda akan menemukan bahwa air itu mengalir dari sebuah lubang di bukit tebing tinggi. Memang di belakang taman ada bukit tinggi. Bagi saya itu menyajikan imajinasi misteri tersendiri. Yang jelas kata teman saya, itu bukit bikin sinyal seluler terhalang.

Jika anda belum puas, jangan buru-buru berganti baju. Tidak jauh dari Taman Sungai Mudal, ada yang disebut Kedung Pedut. Dari pintu masuk, kita harus berjalan beberapa saat terlebih dahulu. Berbeda dengan Taman Sungai Mudal, aliran sunga Kedung Pedut berada di bawah lembah. Pengelola menyediakan wahana flying fox bagi anda yang berminat menguji adrenalin menyeberangi lembah tersebut.

Pengelola membuat bendungan kecil sehingga air cukup dalam untuk direnangi atau diselami. Sebuah menara pendek dibuat dari bambu. Dari situ para pengunjung bisa terjun sembari berteriak menuju pada kedalaman air. Kalau anda melihat di internet, banyak foto yang menggambarkan air di tempat ini berwarna biru tosca. Konon kata pengelola tempat itu, hal ini terjadi terutama saat debet air tidak terlalu banyak. Tapi percayalah, momen itu sulit untuk didapat.

Perjalanan kembali ke tempat parkir kendaraan tentu lebih menghabiskan energi karena anda tadi menuruni lembah. Pengunjung bisa sejenak beristirahat di warung-warung sederhana yang dikelola warga setempat. Tentu teh hangat bisa menjadi pilihan untuk menghangatkan badan. Atau kalau anda beruntung, pemilik warung mungkin menyediakan makanan khas Kulon Progo – geblek – yang liat namun mengasyikan untuk dimakan sembari berbincang dengan kawan tentang foto apa yang terbaik diperoleh hari ini.

Selain dua daya tarik tersebut, beberapa tempat lain yang mungkin bisa dikunjungi adalah air terjun Kembangsoka, kawasan waduk sermo hingga desa wisata Kalibiru atau gua Kiskendo dengan legenda Subali-Sugriwanya. Kawasan Menoreh sejatinya memiliki harta karun wisata yang berlimpah. Perkebunan kopi, the atau durian hingga puncak suralaya adalah contoh lainnya. Namun memang harus diakui medan perbukitan membutuhkan kehandalan seorang sopir di tempat ini.